Dan hujan turun lagi, basahi tanah yang hampir mengering.
Seperti kamu..
Datang menawarkan kebahagiaan, padahal luka yang dulu kamu tinggalkan belum jua sembuh.
Kamu merayu, seakan semua kata-kata itu meyakinkan.
Tidak. Tidak ada yang berubah dari semua ucapanmu, semua masih sama, dengan topik yang sama, dengan alasan dan penjelasan yang sama.
Ah kadang aku kalah lagi dengan hati.
Bagaimana bisa aku membukakan pintu lagi untukmu, padahal hanya luka yang kamu sisakan.
Tidak. Aku tidak membencimu. Aku lelah. Hanya lelah.
Lelah karena sikapmu seperti itu, lelah karena kau terus tarik ulur hatiku, lelah untuk memahamimu sedang kau tak pernah mencoba untuk memahamiku.
Pahamilah aku seorang wanita.
Bukan sekedar janji yang ku butuhkan, tapi kepastian.
Bukan hanya kasih sayang tapi juga perhatian.
Aku ingin seperti mereka yang saling bertukar kabar dan rindu, tidak seperti kita yang seperti orang asing.
Ku fikir jarak yang aku ciptakan kini mampu membuatku lupa kepadamu, tapi nyatanya tidak.
Jarak memang menghilangkan kamu dari pandanganku, tapi tidak menghapusmu dari hati dan fikiranku.
Aku pernah sangat yakin kepadamu, tapi juga pernah sangat ragu.
Mungkin..
Aku mengerti mengapa Tuhan belum beri kita kesempatan untuk bersama, karena ego kita yang sangat besar, karena kita masih sibuk dengan dunia masing-masing.
Atau mungkin.. memang Tuhan tidak mentakdirkan kita untuk bersama.
Ah sudahlah.
Ini rumit. Sangat rumit.
Dan ini sakit, karena aku menyayangimu.
Masih mencintaimu.
Seperti kamu..
Datang menawarkan kebahagiaan, padahal luka yang dulu kamu tinggalkan belum jua sembuh.
Kamu merayu, seakan semua kata-kata itu meyakinkan.
Tidak. Tidak ada yang berubah dari semua ucapanmu, semua masih sama, dengan topik yang sama, dengan alasan dan penjelasan yang sama.
Ah kadang aku kalah lagi dengan hati.
Bagaimana bisa aku membukakan pintu lagi untukmu, padahal hanya luka yang kamu sisakan.
Tidak. Aku tidak membencimu. Aku lelah. Hanya lelah.
Lelah karena sikapmu seperti itu, lelah karena kau terus tarik ulur hatiku, lelah untuk memahamimu sedang kau tak pernah mencoba untuk memahamiku.
Pahamilah aku seorang wanita.
Bukan sekedar janji yang ku butuhkan, tapi kepastian.
Bukan hanya kasih sayang tapi juga perhatian.
Aku ingin seperti mereka yang saling bertukar kabar dan rindu, tidak seperti kita yang seperti orang asing.
Ku fikir jarak yang aku ciptakan kini mampu membuatku lupa kepadamu, tapi nyatanya tidak.
Jarak memang menghilangkan kamu dari pandanganku, tapi tidak menghapusmu dari hati dan fikiranku.
Aku pernah sangat yakin kepadamu, tapi juga pernah sangat ragu.
Mungkin..
Aku mengerti mengapa Tuhan belum beri kita kesempatan untuk bersama, karena ego kita yang sangat besar, karena kita masih sibuk dengan dunia masing-masing.
Atau mungkin.. memang Tuhan tidak mentakdirkan kita untuk bersama.
Ah sudahlah.
Ini rumit. Sangat rumit.
Dan ini sakit, karena aku menyayangimu.
Masih mencintaimu.